Entri Populer

Sabtu, 16 Oktober 2010

Rock and roll (sering ditulis sebagai rock 'n' roll) adalah genre musik yang berkembang di Amerika Serikat di akhir tahun 1940-an, dan mencapai puncak kepopuleran di awal tahun 1950-an. Dari Amerika Serikat, genre musik ini tersebar ke seluruh dunia. Rock and roll melahirkan berbagai macam subgenre yang secara keseluruhan dikenal sebagai musik rock.

Ciri khas rock and roll adalah pada ketukan (beat) yang biasanya dipadu dengan lirik. Rock and roll menggunakan beat yang didasarkan salah satu ritme musik blues yang disebut boogie woogie ditambah aksen backbeat yang hampir selalu diisi pukulan snare drum. Versi klasik dari rock and roll dimainkan dengan satu atau dua gitar listrik, gitar bas listrik, dan drum set. Perangkat kibor sering dimainkan sebagai alat musik tambahan. Bila dimainkan dengan dua gitar listrik, gitar listrik yang dimainkan untuk memberi melodi disebut guitar lead, sedangkan gitar untuk memberi ritme dan harmoni disebut gitar ritme. Saksofon sering dijadikan instrumen melodi pada gaya rock and roll awal tahun 1950-an, tapi digantikan perannya oleh gitar elektrik di pertengahan tahun 1950-an. Di akhir tahun 1940-an, bentuk awal rock and roll bahkan memakai piano sebagai instrumen melodi. Salah satu cikal bakal rock and roll adalah musik boogie woogie dengan piano sebagai melodi, seperti permainan musik berbagai kelompok big band yang mendominasi dunia musik Amerika dekade 1940-an. Kepopuleran rock and roll secara massal dan mendunia ternyata menimbulkan dampak sosial yang tidak terduga. Rock and roll bukan saja mempengaruhi gaya bermusik, tapi sekaligus gaya hidup, gaya berpakaian, dan bahasa. Selain sukses di dunia musik, bintang-bintang di periode awal rock and roll juga sukses di dunia film dan televisi. Elvis Presley, misalnya merupakan bintang rock and roll yang sukses sebagai bintang film dan televisi.

Istilah slang "rock and roll" sering dipakai orang berkulit hitam untuk menyebut "hubungan seks". Penyanyi wanita Trixie Smith pertama kali menggunakan istilah "rock and roll" dalam lagu "My Baby Rocks Me With One Steady Roll" yang diedarkan tahun 1922Periode awal rock and roll Amerika Utara (1953-1963)

Rock and roll muncul di saat ketegangan rasial di Amerika Serikat timbul ke permukaan. Orang Afrika-Amerika mulai memprotes segregasi rasial di sekolah dan fasilitas umum. Pada waktu itu, rock and roll yang memadukan unsur musik orang kulit putih dan unsur musik Afrika-Amerika juga tidak luput dari kecaman. Di tahun 1954, Mahkamah Agung AS menolak doktrin separate but equal (terpisah tapi sejajar) dan sejak itu dimulailah perjuangan persamaan hak orang kulit berwarna di Amerika Serikat.

Louis Jordan and His Tympany Five menyebut istilah "rock and roll" dalam versi lagu "Tamburitza Boogie" yang direkam 18 Agustus 1950 di kota New York. Sebelum Louis Jordan, pemusik lain juga sudah menggunakan istilah "rock and roll" pada rekaman mereka, misalnya "Rock and Roll Blues" yang direkam Erline Harris. Di tahun 1948, Wild Bill Moore sudah merekam lagu berjudul "Rock And Roll", begitu pula Paul Bascomb yang menggunakan judul yang sama di tahun 1947 untuk materi lagu berbeda. Di tahun 1922, Trixie Smith bahkan sudah menulis lagu berjudul "My Man Rocks Me with One Steady Roll." Di tahun 1916, kata "rock and roll" sudah disebut-sebut dalam lagu "The Camp Meeting Jubilee" yang direkam artis-artis yang bernaung di bawah label rekaman Little Wonder. Lirik lagu yang dinyanyikan para penyanyi tersebut berbunyi, "We've been rocking and rolling in your arms, in the arms of Moses".

Seorang DJ bernama Alan Freed (alias Moondog) mengadakan konser rock and roll yang pertama pada 21 Maret 1952 di Cleveland. Konser yang diberi nama "The Moondog Coronation Ball" dihadiri penonton dan pemusik tanpa mengenal perbedaan warna kulit. Konser terpaksa dibubarkan setelah baru satu lagu dibawakan di atas panggung karena situasi tidak terkendali. Ribuan penggemar berusaha mendesak masuk ke arena yang tiketnya sudah terjual habis. Konser ini membuka mata industri rekaman akan adanya minat orang kulit putih terhadap musik orang kulit hitam, dan minat ini tidak terbatas pada genre musik rhythm and blues saja. Rintangan ras dan prasangka yang masih kuat di AS ternyata tidak mampu mengatasi kekuatan ekonomi pasar. Rock and roll sukses besar di Amerika Serikat, gelombangnya terbawa Lautan Atlantik hingga ke Inggris dan melahirkan gerakan musik British Invasion pada tahun 1964.

Sejak dilahirkan pada awal dekade 1950-an hingga awal tahun 1960-an, musik rock and roll ikut melahirkan dansa gaya baru. Anak-anak muda merasakan ritme backbeat rock and roll yang tidak monoton sangat cocok untuk menghidupkan kembali dansa gaya jitterbug yang sempat populer di era big band. Demam pesta dansa rumahan dan dansa sock-hops di ruangan senam melanda remaja Amerika. Anak belasan tahun dengan setia mengikuti acara musik American Bandstand yang dibawakan Dick Clark di televisi agar bisa mengikuti gerakan dansa dan gaya busana paling mutakhir. Sejak pertengahan tahun 1960-an, istilah "rock and roll" menjadi cukup disebut "rock". Sejak itu pula secara berturut-turut muncul berbagai genre dansa, mulai dari twist, funk, disco, hingga house dan techno.Idola remaja

Buddy Holly, Ritchie Valens, dan the Big Bopper (J.P. Richardson) adalah perintis bintang rock and roll idola remaja yang terus dikenang hingga kini. Ketiganya tewas pada dini hari 3 Februari 1959 dalam kecelakaan pesawat yang sedang menerbangkan mereka ke Fargo, North Dakota. Pesawat Beechcraft Bonanza yang dicarter Buddy Holly mengalami kecelakaan sesaat setelah lepas landas dari Mason City, Iowa. Kecelakaan ini terus dikenang orang setelah di tahun 1971 diangkat Don McLean menjadi lagu ballad "American Pie". Begitu populernya lagu ini hingga 3 Februari dikenal sebagai "The Day the Music Died" ("Hari Matinya Musik"). Eddie Cochran ikut menyebut peristiwa ini dalam lagu "Three Stars" yang secara khusus menyebut Buddy Holly, the Big Bopper, dan Valens.

Akhir dari era Buddy Holly, Ritchie Valens, dan The Big Bopper ditandai dengan kemunculan penyanyi dan grup musik idola yang disukai remaja, termasuk di antaranya: The Beatles, Paul Anka, Frankie Avalon, dan selanjutnya The Monkees.
Tulisan singkat ini, sejujurnya, lahir dari kegelisahan penulis sebagai
seorang penggemar dan pemerhati musik jazz, oleh masih sangat minimnya
perhatian masyarakat, terutama Indonesia, terhadap jenis musik ini.
Seperti halnya musik klasik, sebagian besar orang memang cenderung
menganggap jenis musik ini terlalu berat, abstrak, dan sulit untuk
dicerna. Disamping itu, jazz acap kali distereotipkan sebagai musik kaum
elite atau kaum gedongan, walaupun kenyataannya di kalangan ?gedongan?
sendiri, sebenarnya penggemar ataupun penikmat musik jazz masih
merupakan golongan minoritas. Bahkan di kalangan kaum muda dewasa ini
sudah umum dijumpai anggapan bahwa jazz adalah ?musik orang tua yang
membosankan dan membuat kita mengantuk?.

Munculnya /imej/ bagi jazz yang kurang menguntungkan ini berpangkal pada
sebuah pengertian yang dominan bahwa fungsi utama musik adalah untuk
menghibur dan memberikan kepuasan kepada khalayak, dengan tujuan
mendapatkan keuntungan. Adanya perkembangan teknologi, yaitu munculnya
alat perekam suara pada akhir abad ?19 telah mengakibatkan pergeseran
besar dalam seni musik dunia : jika pada awalnya musik merupakan
ekspresi murni perasaan manusia maka kini musik menjadi produk industri
rekaman dan komoditas dagang. Kapitalisme industri musik juga telah
menggeser musik-musik lama yang menunjukkan identitas kultural
masing-masing etnis / bangsa di dunia, dan sebagai gantinya muncullah
jenis musik baru yang mengatasi dan meluruhkan perbedaan-perbedaan
kultural yang ada, yaitu apa yang disebut ?musik populer?. Tanpa
mengesampingkan kreativitas dari musisi pop (hanya sebagian kecil musisi
pop memiliki kreativitas orisinal !), sesungguhnya tidak sedikit
komposisi pop merupakan bentuk-bentuk yang terstandarisasi atau
reproduksi dari trend-trend sesaat, dan fenomena ini cenderung
berlangsung secara global.

Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa musik jazz muncul sebagai
peralihan dari musik ?tradisional? menuju musik ?populer?. Pada awal
perkembangannya, jazz dapat diketegorikan sebagai sebuah contoh musik
tradisi, dimana musik ini sangat mewakili ekspresi dan kultur masyarakat
kulit hitam di Amerika Serikat. Sebagai musik yang mewakili sebuah
masyarakat yang terdiskriminasi, maka perkembangan jenis musik ini juga
akan mengalami nasib kurang lebih sama. Timbulnya aliran swing pada
dekade 1930-an membawa perubahan penting dalam cara orang memandang
musik ini, yang akhirnya berpengaruh pada pengkategorian posisi jazz di
antara berbagai musik lain. Era swing ditandai dengan munculnya jazz
band dengan jumlah pemain yang besar (big band), yang dapat dilihat
sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam
jazz, walaupun tetap mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti
improvisasi, sinkopasi dan /blue note/ (nada yang merendah pada not
ketiga dan ketujuh, merupakan ciri khas musik blues dan jazz). Dengan
perkembangan tersebut, jazz tidak lagi dianggap musik ?barbar? karena
identik dengan orang kulit hitam. Pada masa itu, jazz bahkan telah
menjadi musik populer, dengan irama swing-nya yang cocok untuk berdansa,
dan pada masa itu pula jazz mulai menyebar ke belahan dunia lain seperti
Eropa ataupun Asia. Tidak sedikit komposisi-komposisi jazz dari musisi
handal semacam *George Gershwin, Cole Porter *atau* Duke Ellington
*diangkat menjadi /soundtrack/ film, dan komposisi-komposisi tersebut
sebenarnya merupakan lagu pop pada zamannya.

Perkembangan jazz yang semakin mengarah pada musik hiburan tersebut
menimbulkan reaksi di kalangan musisi jazz kulit hitam. Beberapa
diantaranya seperti *Charlie Parker *dan* Dizzy Gillespie *lantas
memperkenalkan bebop, sebuah style baru dalam jazz pada sekitar akhir
dekade 1940-an. Kemunculan bebop ini sering disebut sebagai revolusi
dalam musik jazz, karena konon para eksponennya memiliki sebuah spirit
baru yang bertujuan mengembalikan jazz pada hakikatnya sebagai musik
?seni? khas kaum negro. Aliran baru ini ditandai dengan berkembangnya
formasi band / combo secara lebih minimalis dengan konsekuensi semakin
luasnya ruang bagi improvisasi solo masing-masing pemain. Disamping gaya
swing dengan formasi big band-nya, bebop dan beberapa variasi yang
muncul kemudian (hard bop, cool jazz, dan sebagainya) menjadi aliran
utama (mainstream) dan pusat dari perkembangan jazz dunia hingga masa kini.
Semenjak ?revolusi? bebop, jazz agaknya cenderung berkembang menjadi
sebuah genre yang lebih eksklusif daripada sebelumnya dan makin tampak
terpisah dari berbagai jenis musik lain. Memang, jazz kemudian
benar-benar berkembang menjadi sebuah musik ?seni? dengan tingkat
kesulitan tinggi sebagaimana halnya musik klasik. Pada masa-masa
sekarang ini akan lebih banyak dijumpai musisi jazz jebolan
sekolah-sekolah musik, walaupun kenyataannya para dedengkot awal jazz
hampir semuanya belajar bermusik secara otodidak. Sebagai sebuah genre
musik yang makin membutuhkan keseriusan, maka tidak mengherankan apabila
jazz mulai agak dijauhi khalayak. Apalagi pada saat itu, trend rock?n
roll makin merajai blantika musik populer dunia. Jika pada tahun
1940-an, jazz dapat dijumpai pada komunitas tempat hiburan umum dan
pesta-pesta dansa, sejak sekitar tahun 1950 dan selanjutnya akan terasa
?bergeser? menuju komunitas intelektual dan akademisi, dimana mereka
semakin cenderung memperlakukan musik ini seakan sebuah ?disiplin ilmu?
tersendiri. Jika ditelaah lebih lanjut, adanya revolusi bebop setidaknya
membawa beberapa dampak positif : Pertama, di tengah iklim rasialisme
yang masih kuat hingga tahun 1960-an (ingat kasus tertembaknya *Martin
Luther King*, pejuang kulit hitam AS pada tahun 1968 !), jazz mulai
dikategorikan sebagai bagian dari ?budaya tinggi?, disaat musik rock
yang diangkat kaum kulit putih justru lebih menjadi bagian dari ?budaya
massa?. Kedua, dengan sedikit melepaskan diri dari bentuk orkestrasi ala
swing akan memungkinkan para musisi jazz melakukan eksplorasi-eksplorasi
baru dengan mengadaptasikan unsur dari musik-musik yang dianggap dapat
memperkaya jazz. Tanpa bebop, mungkin tidak akan pernah ada jazz fusion,
avant garde atau world music yang mengeksplorasi musik-musik etnis dari
berbagai belahan dunia.

Pada masa-masa belakangan, semakin tampak bahwa musik jazz senantiasa
kontradiktif dengan musik populer (rock dan pop), dimana jika seseorang
menjadi penggemar salah satu jenis musik ini biasanya akan menolak yang
lainnya. Yang kurang diketahui umum adalah bahwa kedua jenis musik
tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang saling mempengaruhi.
Bukankah jazz maupun rock tumbuh dari akar yang sama, yakni blues ?
Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa lagu-lagu *The Beatles* telah
banyak dibawakan oleh para musisi jazz sebagai lagu standar. Atau bahwa
*Sting*, pentolan grup /New Wave/ era 80-an, *The Police*, adalah juga
seorang musisi jazz yang handal. Akibat interaksi antara jazz dan
musik-musik hiburan terbukti telah melahirkan berbagai sintesis baru
yang memperkaya nuansa baik dalam jazz maupun rock. Bagi para musisi pop
atau rock yang mengadopsi elemen jazz akan memberi mereka suatu nilai
lebih karena dengan demikian akan dianggap lebih bermutu, sementara
sebaliknya bagi kalangan musisi jazz, dengan mengadopsi unsur musik
populer akan menyebabkan karya mereka lebih memiliki daya jual.

Munculnya berbagai bentuk sintesis antara jazz dan musik hiburan ini
sering menjadi bahan perdebatan di kalangan kritikus musik, mengenai
pengkategorian yang menjadi semakin kabur karenanya. Sejak sekitar tahun
1980-an, berbagai aliran baru ini diberi nama /Adult Contemporary/ (AC),
agaknya untuk menunjukkan bahwa musik ini ditujukan untuk kalangan usia
tertentu yang dianggap telah ?dewasa?, biasanya usia 30 tahun ke atas..
Musik-musik yang dapat dikategorikan sebagai AC ini meliputi :

1. *Fusion*, yang lahir sekitar akhir dekade 1960-an, ketika Miles
Davis, seorang eksponen bebop dan cool jazz mempopulerkan sebuah
varian baru jazz dengan mengadopsi unsur rock dan soul / R&B.
Kepeloporan Miles dilanjutkan oleh musisi-musisi generasi di
bawahnya. Salah seorang yang paling sukses adalah Chick Corea
dimana ia mempopulerkan penggunaan instrumen elektronis dalam
jazz, sehingga fusion kemudian hampir tidak dapat dilepaskan dari
ciri (elektronis) tersebut. Pada awalnya, fusion masih cukup sarat
dengan improvisasi jazz, akan tetapi kemudian semakin mengarah
pada pop dengan jenis komposisi yang disederhanakan untuk lebih
menarik selera pasar. Jenis terakhir ini kemudian lebih populer
dengan istilah smooth jazz atau terkadang disebut pula
contemporary jazz.
2. ?*Jazzy*?, yang berarti ?agak-agak ngejazz? atau ?sedikit
bernuansa jazz?. Umumnya istilah ini dipergunakan untuk menyebut
musik populer yang mengadopsi unsur jazz, umumnya pada progresi
chord (yang mewakili unsur ?blue note?) maupun irama (rhythm) yang
sering dipergunakan dalam jazz misalnya swing, soul, bossanova dan
sebagainya. Beberapa pengusung awal jazzy antara lain kelompok
*Blood, Sweat & Tears (BS&T) *dan *Chicago* sekitar tahun 1968.
Artis-artis jazzy memiliki latar belakang beraneka ragam. Ada
sebagian artis/musisi yang memang memilih jazzy sebagai konsep
musiknya, ada pula yang menjadi ?jazzy? hanya karena kolaborasinya
dengan musisi-musisi jazz. Dengan demikian, warna musiknya akan
beraneka ragam. Salah satu varian yang paling populer belakangan
ini adalah acid jazz, dimana aliran musik baru ini konon merupakan
hasil ?ulah? para DJ (disc jockey) dalam menciptakan suatu jenis
musik dance dengan memasukkan unsur jazz, soul, hip hop, dan funk
dalam satu komposisi/lagu. Acid jazz yang dibawakan oleh grup
seperti Brand New Heavies dan Incognito, dengan beat-nya yang
dinamis ini dengan segera memperoleh sambutan dari kalangan
pendengar yang lebih muda.

Dari ilustrasi historis yang sangat singkat ini kiranya dapat diperoleh
sebuah pengertian bahwa jazz tidak melulu merupakan jenis musik serius
dan membosankan. Kiranya lebih tepat jika dikatakan bahwa jazz merupakan
sebuah proses ?tarik ulur? antara tradisi musik seni / klasik yang
bersifat elitis dengan musik hiburan yang mewakili aspirasi khalayak
lebih luas. Dari proses tarik ulur inilah kemudian muncul banyak sekali
varian ataupun aliran dalam jazz yang makin memperkaya khazanah musik
ini. Sesungguhnya, jazz menawarkan keanekaragaman dan
eksplorasi-eksplorasi musikal yang sayang apabila diabaikan begitu saja,
apalagi bagi generasi muda yang biasanya paling memiliki rasa ingin
tahu. Akhir kata penulis ucapkan : selamat mencoba !
Tulisan singkat ini, sejujurnya, lahir dari kegelisahan penulis sebagai
seorang penggemar dan pemerhati musik jazz, oleh masih sangat minimnya
perhatian masyarakat, terutama Indonesia, terhadap jenis musik ini.
Seperti halnya musik klasik, sebagian besar orang memang cenderung
menganggap jenis musik ini terlalu berat, abstrak, dan sulit untuk
dicerna. Disamping itu, jazz acap kali distereotipkan sebagai musik kaum
elite atau kaum gedongan, walaupun kenyataannya di kalangan ?gedongan?
sendiri, sebenarnya penggemar ataupun penikmat musik jazz masih
merupakan golongan minoritas. Bahkan di kalangan kaum muda dewasa ini
sudah umum dijumpai anggapan bahwa jazz adalah ?musik orang tua yang
membosankan dan membuat kita mengantuk?.

Munculnya /imej/ bagi jazz yang kurang menguntungkan ini berpangkal pada
sebuah pengertian yang dominan bahwa fungsi utama musik adalah untuk
menghibur dan memberikan kepuasan kepada khalayak, dengan tujuan
mendapatkan keuntungan. Adanya perkembangan teknologi, yaitu munculnya
alat perekam suara pada akhir abad ?19 telah mengakibatkan pergeseran
besar dalam seni musik dunia : jika pada awalnya musik merupakan
ekspresi murni perasaan manusia maka kini musik menjadi produk industri
rekaman dan komoditas dagang. Kapitalisme industri musik juga telah
menggeser musik-musik lama yang menunjukkan identitas kultural
masing-masing etnis / bangsa di dunia, dan sebagai gantinya muncullah
jenis musik baru yang mengatasi dan meluruhkan perbedaan-perbedaan
kultural yang ada, yaitu apa yang disebut ?musik populer?. Tanpa
mengesampingkan kreativitas dari musisi pop (hanya sebagian kecil musisi
pop memiliki kreativitas orisinal !), sesungguhnya tidak sedikit
komposisi pop merupakan bentuk-bentuk yang terstandarisasi atau
reproduksi dari trend-trend sesaat, dan fenomena ini cenderung
berlangsung secara global.

Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa musik jazz muncul sebagai
peralihan dari musik ?tradisional? menuju musik ?populer?. Pada awal
perkembangannya, jazz dapat diketegorikan sebagai sebuah contoh musik
tradisi, dimana musik ini sangat mewakili ekspresi dan kultur masyarakat
kulit hitam di Amerika Serikat. Sebagai musik yang mewakili sebuah
masyarakat yang terdiskriminasi, maka perkembangan jenis musik ini juga
akan mengalami nasib kurang lebih sama. Timbulnya aliran swing pada
dekade 1930-an membawa perubahan penting dalam cara orang memandang
musik ini, yang akhirnya berpengaruh pada pengkategorian posisi jazz di
antara berbagai musik lain. Era swing ditandai dengan munculnya jazz
band dengan jumlah pemain yang besar (big band), yang dapat dilihat
sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam
jazz, walaupun tetap mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti
improvisasi, sinkopasi dan /blue note/ (nada yang merendah pada not
ketiga dan ketujuh, merupakan ciri khas musik blues dan jazz). Dengan
perkembangan tersebut, jazz tidak lagi dianggap musik ?barbar? karena
identik dengan orang kulit hitam. Pada masa itu, jazz bahkan telah
menjadi musik populer, dengan irama swing-nya yang cocok untuk berdansa,
dan pada masa itu pula jazz mulai menyebar ke belahan dunia lain seperti
Eropa ataupun Asia. Tidak sedikit komposisi-komposisi jazz dari musisi
handal semacam *George Gershwin, Cole Porter *atau* Duke Ellington
*diangkat menjadi /soundtrack/ film, dan komposisi-komposisi tersebut
sebenarnya merupakan lagu pop pada zamannya.

Perkembangan jazz yang semakin mengarah pada musik hiburan tersebut
menimbulkan reaksi di kalangan musisi jazz kulit hitam. Beberapa
diantaranya seperti *Charlie Parker *dan* Dizzy Gillespie *lantas
memperkenalkan bebop, sebuah style baru dalam jazz pada sekitar akhir
dekade 1940-an. Kemunculan bebop ini sering disebut sebagai revolusi
dalam musik jazz, karena konon para eksponennya memiliki sebuah spirit
baru yang bertujuan mengembalikan jazz pada hakikatnya sebagai musik
?seni? khas kaum negro. Aliran baru ini ditandai dengan berkembangnya
formasi band / combo secara lebih minimalis dengan konsekuensi semakin
luasnya ruang bagi improvisasi solo masing-masing pemain. Disamping gaya
swing dengan formasi big band-nya, bebop dan beberapa variasi yang
muncul kemudian (hard bop, cool jazz, dan sebagainya) menjadi aliran
utama (mainstream) dan pusat dari perkembangan jazz dunia hingga masa kini.
Semenjak ?revolusi? bebop, jazz agaknya cenderung berkembang menjadi
sebuah genre yang lebih eksklusif daripada sebelumnya dan makin tampak
terpisah dari berbagai jenis musik lain. Memang, jazz kemudian
benar-benar berkembang menjadi sebuah musik ?seni? dengan tingkat
kesulitan tinggi sebagaimana halnya musik klasik. Pada masa-masa
sekarang ini akan lebih banyak dijumpai musisi jazz jebolan
sekolah-sekolah musik, walaupun kenyataannya para dedengkot awal jazz
hampir semuanya belajar bermusik secara otodidak. Sebagai sebuah genre
musik yang makin membutuhkan keseriusan, maka tidak mengherankan apabila
jazz mulai agak dijauhi khalayak. Apalagi pada saat itu, trend rock?n
roll makin merajai blantika musik populer dunia. Jika pada tahun
1940-an, jazz dapat dijumpai pada komunitas tempat hiburan umum dan
pesta-pesta dansa, sejak sekitar tahun 1950 dan selanjutnya akan terasa
?bergeser? menuju komunitas intelektual dan akademisi, dimana mereka
semakin cenderung memperlakukan musik ini seakan sebuah ?disiplin ilmu?
tersendiri. Jika ditelaah lebih lanjut, adanya revolusi bebop setidaknya
membawa beberapa dampak positif : Pertama, di tengah iklim rasialisme
yang masih kuat hingga tahun 1960-an (ingat kasus tertembaknya *Martin
Luther King*, pejuang kulit hitam AS pada tahun 1968 !), jazz mulai
dikategorikan sebagai bagian dari ?budaya tinggi?, disaat musik rock
yang diangkat kaum kulit putih justru lebih menjadi bagian dari ?budaya
massa?. Kedua, dengan sedikit melepaskan diri dari bentuk orkestrasi ala
swing akan memungkinkan para musisi jazz melakukan eksplorasi-eksplorasi
baru dengan mengadaptasikan unsur dari musik-musik yang dianggap dapat
memperkaya jazz. Tanpa bebop, mungkin tidak akan pernah ada jazz fusion,
avant garde atau world music yang mengeksplorasi musik-musik etnis dari
berbagai belahan dunia.

Pada masa-masa belakangan, semakin tampak bahwa musik jazz senantiasa
kontradiktif dengan musik populer (rock dan pop), dimana jika seseorang
menjadi penggemar salah satu jenis musik ini biasanya akan menolak yang
lainnya. Yang kurang diketahui umum adalah bahwa kedua jenis musik
tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang saling mempengaruhi.
Bukankah jazz maupun rock tumbuh dari akar yang sama, yakni blues ?
Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa lagu-lagu *The Beatles* telah
banyak dibawakan oleh para musisi jazz sebagai lagu standar. Atau bahwa
*Sting*, pentolan grup /New Wave/ era 80-an, *The Police*, adalah juga
seorang musisi jazz yang handal. Akibat interaksi antara jazz dan
musik-musik hiburan terbukti telah melahirkan berbagai sintesis baru
yang memperkaya nuansa baik dalam jazz maupun rock. Bagi para musisi pop
atau rock yang mengadopsi elemen jazz akan memberi mereka suatu nilai
lebih karena dengan demikian akan dianggap lebih bermutu, sementara
sebaliknya bagi kalangan musisi jazz, dengan mengadopsi unsur musik
populer akan menyebabkan karya mereka lebih memiliki daya jual.

Munculnya berbagai bentuk sintesis antara jazz dan musik hiburan ini
sering menjadi bahan perdebatan di kalangan kritikus musik, mengenai
pengkategorian yang menjadi semakin kabur karenanya. Sejak sekitar tahun
1980-an, berbagai aliran baru ini diberi nama /Adult Contemporary/ (AC),
agaknya untuk menunjukkan bahwa musik ini ditujukan untuk kalangan usia
tertentu yang dianggap telah ?dewasa?, biasanya usia 30 tahun ke atas..
Musik-musik yang dapat dikategorikan sebagai AC ini meliputi :

1. *Fusion*, yang lahir sekitar akhir dekade 1960-an, ketika Miles
Davis, seorang eksponen bebop dan cool jazz mempopulerkan sebuah
varian baru jazz dengan mengadopsi unsur rock dan soul / R&B.
Kepeloporan Miles dilanjutkan oleh musisi-musisi generasi di
bawahnya. Salah seorang yang paling sukses adalah Chick Corea
dimana ia mempopulerkan penggunaan instrumen elektronis dalam
jazz, sehingga fusion kemudian hampir tidak dapat dilepaskan dari
ciri (elektronis) tersebut. Pada awalnya, fusion masih cukup sarat
dengan improvisasi jazz, akan tetapi kemudian semakin mengarah
pada pop dengan jenis komposisi yang disederhanakan untuk lebih
menarik selera pasar. Jenis terakhir ini kemudian lebih populer
dengan istilah smooth jazz atau terkadang disebut pula
contemporary jazz.
2. ?*Jazzy*?, yang berarti ?agak-agak ngejazz? atau ?sedikit
bernuansa jazz?. Umumnya istilah ini dipergunakan untuk menyebut
musik populer yang mengadopsi unsur jazz, umumnya pada progresi
chord (yang mewakili unsur ?blue note?) maupun irama (rhythm) yang
sering dipergunakan dalam jazz misalnya swing, soul, bossanova dan
sebagainya. Beberapa pengusung awal jazzy antara lain kelompok
*Blood, Sweat & Tears (BS&T) *dan *Chicago* sekitar tahun 1968.
Artis-artis jazzy memiliki latar belakang beraneka ragam. Ada
sebagian artis/musisi yang memang memilih jazzy sebagai konsep
musiknya, ada pula yang menjadi ?jazzy? hanya karena kolaborasinya
dengan musisi-musisi jazz. Dengan demikian, warna musiknya akan
beraneka ragam. Salah satu varian yang paling populer belakangan
ini adalah acid jazz, dimana aliran musik baru ini konon merupakan
hasil ?ulah? para DJ (disc jockey) dalam menciptakan suatu jenis
musik dance dengan memasukkan unsur jazz, soul, hip hop, dan funk
dalam satu komposisi/lagu. Acid jazz yang dibawakan oleh grup
seperti Brand New Heavies dan Incognito, dengan beat-nya yang
dinamis ini dengan segera memperoleh sambutan dari kalangan
pendengar yang lebih muda.

Dari ilustrasi historis yang sangat singkat ini kiranya dapat diperoleh
sebuah pengertian bahwa jazz tidak melulu merupakan jenis musik serius
dan membosankan. Kiranya lebih tepat jika dikatakan bahwa jazz merupakan
sebuah proses ?tarik ulur? antara tradisi musik seni / klasik yang
bersifat elitis dengan musik hiburan yang mewakili aspirasi khalayak
lebih luas. Dari proses tarik ulur inilah kemudian muncul banyak sekali
varian ataupun aliran dalam jazz yang makin memperkaya khazanah musik
ini. Sesungguhnya, jazz menawarkan keanekaragaman dan
eksplorasi-eksplorasi musikal yang sayang apabila diabaikan begitu saja,
apalagi bagi generasi muda yang biasanya paling memiliki rasa ingin
tahu. Akhir kata penulis ucapkan : selamat mencoba !
Hip Hop adalah sebuah gerakan kebudayaan yang mulai tumbuh sekitar tahun 1970’an yang dikembangkan oleh masyarakat Afro-Amerika dan Latin-Amerika. Hip Hop merupakan perpaduan yang sangat dinamis antara elemen-elemen yang terdiri dari MCing (lebih dikenal rapping), DJing, Breakdance, dan Graffiti. Belakangan ini elemen Hip Hop juga diwarnai oleh beatboxing, fashion, bahasa slang, dan gaya hidup lainnya.
Awalnya pertumbuhan Hip Hop dimulai dari The Bronx di kota New York dan terus berkembang dengan pesat hingga keseluruh dunia. Hip hop pertama kali diperkenalkan oleh seorang Afro-Amerika, Grandmaster Flash dan The Furious Five. Awalnya musik Hip Hop hanya diisi dengan musik dari Disk Jockey dengan membuat fariasi dari putaran disk hingga menghasilkan bunyi-bunyi yang unik. "Rapping" kemudian hadir untuk mengisi vokal dari bunyi-bunyi tersebut. Sedangkan untuk koreografinya, musik tersebut kemudian diisi dengan tarian patah-patah yang dikenal dengan breakdance. Pada perkembangannya Hip Hop juga dianggap sebagai bagian dari seni dan untuk mengekspresikan seni visual muncullah Graffiti sebagai bagaian dari budaya Hip

Era Hip-Hop

Hip Hop juga memiliki masa kejayaannya masing-masing. Setiap masa menghasilkan beberapa artis dan hits yang cukup meledak, dan memiliki pengikut yang tidak sedikit.

Golden Age HipHop (1986-1992)

Masa keemasan Hip Hop dimulai ketika Run DMC menelurkan album “Raising Hell” pada tahun 1986, dan diakhiri dengan munculnya G-Funk pada tahun 1992. Masa ini lebih didominasi oleh musisi dari East Coast yang bermarkas di New York City. Label Def Jam Records menjadi salah satu label East Coast yang independen saat itu.

Modern Era (1992-1998)

Ice T, NWA, Mobb Deep dan Tupac Shakur sukses menciptakan gangsta rap dengan irama musik yang masih gelap namun dengan beat-beat yang cukup kencang. Pada awal tahun 1992, gangsta rap mulai menjadi sebuah musik yang sangat mainstream dengan munculnya Dr. Dre dengan The Chronic’s. Album ini muncul dengan gaya baru yang disebut G-Funk, yang di dominasi oleh musik tahun 70’an. G-Funk pula lah yang akhirnya menjadi sebuah identitas musik West Coast Hip Hop pada saat itu.

Jiggy/Bling-Bling Era (1998-Present)

Nama-nama seperti OutKast, No Limit, dan Cash Money Records merupakan bagian dari era ini. Mereka lah yang mempopulerkan jenis musik mereka sehingga timbulah istilah Jiggy atau Bling-Bling Era. Musik pada era ini dinamakan Neo Soul yaitu campuran antara musik Hip Hop dan musik Soul.

Subgenre Hip Hop

Hip Hop juga mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, terutama pada jenis musik itu sendiri. Hip Hop pun mulai dikombinasikan dengan musik-musik lain seperti rock, reggae, techno, dan sebagainya.